Web Mahasiswa

Berpacu menjadi yang terbaik

Kategori

Artikel Populer

tugas sejarah perkotaan

diposting oleh rizki-yulyanto-fib12 pada 13 June 2017
di Umum - 0 komentar

PARA BENGGOL DI SURAKARTA PADA MASA REVOLUSI

Benggol merupakan sebuah pemimimpin para bandit yang sangat dihormati oleh pengikutnya.[1] Dia meliki otoritas atas penguasaanya yang bersumber pada wibawanya. Atas otoritas kepemimpinannya, para benggol tersebut dapat melakukan perkrutan dengan loyalitas terhadapnya. Oleh karena itu, para pengikutnya memiliki komitmen terhadap pemimpin dan juga kelomponya. Tidak cukup hanya wibawa saja biasanya parah benggol tersebut juga dilengkapi dengan ilmu-ilmu kanuragan baik itu ilmu kebatinan ataupun ilmu kesakten.[2] Dari kemampuan memimpin dan juga ilmu-ilmu tersebut dapat berdampak terhadap nama baiknya sebagai benggol, sehingga semakin disegani dan ditakuti dari pihak musuh maupun anak buahnya.

Dalam tugas kejahatanya, biasanya para benggol di bantu oleh wakilnya yang biasa disebut wukul. Apabilah wilayah kekuasaan benggol sangatlah luas , maka seorang wukul akan di angkat menjadi “lurah” untuk melaksanakan “roda pemerintahan dinasti seorang benggol”. Hal tersebut memperlihatkan bahwa terdapat sebuah persaingan yang dilakukan oleh para wukul untuk dapat mengambil perhatian benggol tersebut. dari beberah kasus banyak wukul yang mengalami kekecewaan karena tidak dijadikan “lurah” oleh para benggol, sehingga para wukul tersebut melakukan pengkhianatan terhadap benggol. Tetapi jika seorang benggol dapat meredahkan pengkhianatan dari wukul dapat berdampak baik terhadapnya berupa sebuah ketenarannya. Beberapa benggol yang terkenal di Surakarta pada masa revousi adalah Suradi Bledeg, Mbah Panca, Kentrung, dan lain-lain.

Suradi Bledeg merupakan seorang benggol yang terkenal di Surakarta. Suradi Bledeg dilahirkan pada tahun 1921 di Musuk, Boyolali. Masa remajanya dihabiskan di daerah Simo. Sejak kecil, Suradi tertarik mempelajari berbagai ilmu kesaktian yang ada di daerah Simo. Tidak puas berguru di Simo Suradi berkelana ke Madiun, Kediri, dan Gunung Kidul untuk memperdalam ilmunya baik ilmu kanuragan maupun ilmu kesaktian.setiap makam yang keramat selalu dikunjunginya untuk melakukan tapa atau semedi agar mendapatkan kekuatan gaib.

Suradi tidak hanya pada ilmu yang tinggi tampang dan suara yang menakutkan tetapi ditambah pula kemampuan berpidatonya. Keahlian yang dimiliki Suradi membuat simpati teman-temanya, sehingga ia di percaya untuk menjadi benggol. Pada saat Suradi bergabung dengan MMC (Merapi Merbabu Complex), ia dengan segera menjadi perhatian dan mendapat kepercayaan memimpin gerakan ini. Suradi bergabung dengan MMC atas dasar kekecewaan terhadap rasionalisasi dari Hatta. Sebelum bergabung dengan MMC awalnya Suradi msuk dalam kelompok Laskar Rakyat, tetapi dengan adanya program rasionalisasi Suradi dipecat dari keangotaanya. Dari pemecatan tersebut Suradi menganggur dan kemudian memimpin beberapa rekanya melakukan aksi-aksi criminal di lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Pada saat yang sama pula beberapa orang yang kecewa dari program tersebut dan juga beberapa anggota lascar rakyat yang di pecat tergabung dalam MMC membuat Suradi tertarik untuk bergabung dalam gerakan tersebut.

Dalam kepemimpinannya di MMC tahun 1949 dan 1950, Suradi membagi operasinya dalam beberapa daerah:

  1. Daerah cepogo ke utara sampai Salah tiga di bawah Gerombolan Tjiptosardju.
  2. Daerah lerang merapi yang meliputi Boyolali dan Klaten di bawah Gerombolan Kudo.
  3. Daerah di sekitar hutan Surowono di kecamatan Selo di bawah komando Gerombolan Tjipto.
  4. Daerah Ampel dan Banyudono dikuasai oleh Gerombolan sukarmin.
  5. Daerah Klaten dipercayahkan kepada Gerombolan Bedjo.

Beberapa gerombolan yang menguasai beberapa daerah tersebut masih dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dengan jumlah yang berubah-ubah. Gerombolan Tjiptosardju membawahi tiga kelompok yaitu kelompok Sujud yang bergerak di antara Salahtiga dan Ambarawa, Walujo Muksin di daerah Ungaran-Semarang-Kendal dan kelompok Multajad di daerah Magelang-Boyolali-Salahtiga. Gerombolan Kudo didukung oleh dua kelompok, yaitu kelompok pimpinan Joso alias Sardi dan kelompok Amat, sedangkan Gerombolan Bedjo membawahi dua kelompok yaitu Kartopaing dan Mariman.

Kelompok MMC sendiri melakukan tindakan aksi-aksi pengrayakan. Aksi-aksi kejahata tersebut dilakukan karena pasukan-pasukan yang terkena rasionalisasi. Rasionilasasi sendiri merupakan sebuah program pemerintah atasorganisasi angkatan perang professional. Program ini dilaksanakan dengan cara mengurangi jumlah tentara, peleburan divisi-divisi, dan penyesuaian pangkat-pangkat dalam ketentaraan. Pasukan yang terkena rasionalisasi tersebut berlatar belakang tidak disiplin, pasukan dari sayap kiri maupun alasa-alasan lain. Akibat dari rasionaisasi tersebut timbulah sikap-sikap antipati terhadap pemerintah.

Setelah Suradi Bledeg meninggal pada tahun 1951 di klaten. Pimpinan MMC berpindah ke Umar junani. Umar Junani menempuh jalan sebagai seorang criminal tidak hanya kecewa terhadap program rasionalisasi tetapi juga terhadap pemerintah yang melakukan pembersian orang-orang komunis setelah peristiwa Madiun pada tahun 1948. Selain Junani, banyak sekali pejuang-pejuang komunis yang bergabung di dalam MMC. Oleh karena itu, kriminalitas yang dilakukan oleh MMC bersifat politik dengan tujuan menggulingkan kewibawaan pemerintah.

KESIMPULAN

Kekecewaan terhadap sebuah kebijakan pemerintah dapat mengakibatkan sebuah kriminalitas yang terjadi baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sebagai contoh di Surakata yang merupakan sebuah kota kerasidenan tidak luput dari tindakan kriminalitas. Dilihat dari sebuah rangkuman yang dilakukan oleh penulis terhadap buku dari Julianto Ibrahim pada sub bab benggol di Surakarta. Yang menceritakan sedikit mengenai kelompok bandit yang sangat terkenal dan juga benggolnya yaitu Suradi Bledeg yang memimpin kelompok MMC (Merapi Merbabu Complex) yang melakukan tindakan kriminalitas atas dasar kekecewaan terhadap rasionalisasi dan juga pembersian kelompok komunis pada masa revolusi hingga tahun1958.



[1] Julianto Ibrahim, Bandit dan Pejuang di Samping Bengawan: Kriminalitas dan Kekerasan di Surakarta (Surakarta: 2004), hlm. 224.

[2] Ibid, hlm. 226.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :